Selasa, 20 November 2012

MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA


Tulisan ini saya tujukan kepada rekan-rekan kepala sekolah dan pengelola perpustakaan sekolah.              Mengapa kita tertinggal dari bangsa-bangsa lain di dunia ini? Salah satu penyebannya karena minat baca masyarakat Indonesia masih sangat rendah , Perlu diketahui bahwa, membaca adalah faktor penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Namun sayangnya minat baca dikalangan siswa pada khususnya dan masyarakat pada umumnya masih sangat rendah.
            Untuk itulah, minat baca dikalangan siswa harus ditingkatkan sedini mungkin bagaimana caranya 


Konsep Minat Baca
Bagaimana dengan konsep minat baca? Minat sering disebut juga sebagai interest. Minat merupakan gambaran sifat dan sikap ingin memiliki kecenderungan tertentu. Minat juga diartikan kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu dan keinginan yang kuat untuk melakukan sesuatu. Minat bukan bawaan dari lahir, melainkan dapat dipengaruhi bakat. Minat harus diciptakan atau dibina agar tumbuh dan terasa sehingga menjadi kebiasaan. Melakukan sesuatu dengan terpaksa atau karena kewajiban walau dikerjakan dengan baik belum tentu menunjukkan minat yang baik, seperti membaca buku teks pelajaran
Manfaat Membaca
Secara khusus, Jordan E. Ayan pernah menyatakan dalam bukunya yang berjudul ‘bengkel kreatif’ bahwa membaca memiliki dampak positif bagi perkembangan kecerdasan, yaitu :
 1.      Mempertinggi kecerdasan verbal/linguistik, karena dengan banyak membaca akan memperkaya kosa kata, 
2.      Meningkatkan kecerdasan matematis-logis dengan “memaksa” kita menalar, mengurutkan dengan teratur dan berpikir logis untuk dapat mengikuti jalan cerita atau memecahkan suatu mister 
 3.      Mengembangkan kecerdasan intrapersonal dengan mendesak kita merenungkan kehidupan dan mempertimbangkan kembali keputusan akan cita-cita hidup 
4.      Membaca dapat memicu imajinasi dengan mengajak kita membayangkan dunia beserta isinya, lengkap denga segala kejadian, lokasi dan karakteristiknya 
5.      Manfaat membaca buku yang lain adalah membentuk karakter dan kepribadian. Karena itulah kemudia sering kita mendengar pernyataan bahwa apa yang kita baca sekarang, seprti itulah kita 20 tahun mendatang. Bahkan novel-novel sastra, komik dan buku-buku fisik secara tidak langsung dapat mengubah karakter kita, sesuai dengan image yang ada dalam buku tersebut
A.      Faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca
        Adanya banyak faktor penghambat, mengapa minat baca di Indonesia rendah. Faktor-faktor tersebut diantaranya sebagai berikut :
1.      Ketidakpedulian kita akan aktivitas membaca boleh jadi akibat dari kondisi masyarakat kita yang tidak pernah membaca, akibat tidak terbiasa dengan budaya menulis (terbiasa dengan budaya lisan), kedalam bentuk masyarakat yang tidak hendak membaca seiring masuknya teknologi telekomunikasi, informatika dan broadcasting. Akibatnya masyarakat kita lebih senang nonton televisi daripada membaca
2.      Pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak/siswa/mahasiswa harus membaca (lebih banyak lebih baik) dan mencari informasi/pengetahuan lebih dari apa yang diajarkan
3.      Banyak jenis hiburan, permainan (game) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dan orang dewasa dari buku. Banyak kalangan yang menuding perkembangan teknologi audio visual semisal televisi sebagai biang kerok penyebab hilangnya minat baca buku. Namun perlu kita ketahui, di negara-negara maj seperti Jepang, Inggris dan Amerika kemajuan teknologi audio visual tidak berpengaruh sedikitpun terhadap tinggnya minat orang membaca buku
4.      Orang lebih senang mengunjungi tempat hiburan untuk menghabiskan waktu seperti taman rekreasi, tempat karaoke, night club, mall, supermarket, dan lain-lain dari pada membaca buku
5.      Budaya baca memang belum diwariskan secara maksimal oleh nenek moyang. Kita terbiasa mendengar dan belajar dari berbagai dongeng, kisah, adat istiadat yang secara verbal dikemukakan orang tua, tokoh masyarakat atau penguasa zaman dulu.
6.      Masyarakat belum menempatkan buku sebagai kebutuhan kedua, setelah kebutuhan dasar, seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Dalam setahun belanja masyarakat untuk buku dan surat kabar hanya sebesar Rp. 1,9 trilyun. Ini jauh tertinggal dibanding belanja untuk rokok mencapai Rp. 47 trilyun dan obat terlarang mencapai 145 trilyun
7.      Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakan atau taman bacaan, masih merupakan barang aneh dan langka. Hampir di semua sekolah, jenis dan jenjang pendidikan perpustakaannya masih belum memenuhi standar sarana dan prasarana pendidikan.
8.      Tak ada motivasi dan bimbingan praktis dari guru, utamanya guru bidang studi Bahasa dan Sastra Indonesia. Motivasi tidak hanya berbentuk dorongan yang disampaikan melalui kata-kata
9.      Rendahnya kualitas guru. Harus diakui tidak jarang kita temukan guru-guru (baik disekolah negeri maupun swasta) yang mengajar bukan berdasarkan keahliannya. Misalnya, guru spesifikasinya dibidang matematika karena terbatasnya tenaga pengajar, terpaksa mengajar pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Karena sudah terpaksa, ia pura-pura memahami, mengeksplorasi dan sedikit mengapresiasi. Hasilnya pun nihil karena siswa tidak mendapatkan bimbingan secara maksimal.
         Selain kendala kultural seperti diatas, ada hambatan lain secara struktural hingga orang malas membaca, diantaranya : 
1)      Harga buku yang sangat mahal sementara kondisi perekonomian masyarakat masih memprihatinka
2)      Pola dan gaya hidup masyarakat kita yang memang tampaknya selalu ingin unjuk diri, pamer akan kelebihan-kelebihan dari segi materi 
3)      Adanya kesalahan persepsi terhadap membaca. Membaca dianggap sebagai pekerjaan yang membuang-buang waktu saja dan tidak efektif 
4)      Kurangnya fasilitas membaca bagi masyarakat umum yang dibangun oleh pemerintah
Menumbuhkan minat membaca sudah menjadi salah satu prioritas dalam dunia pendidikan. Adapun unsur-unsur yang dapat memperlancar perkembangan minat baca siswa antara lain sebagai berikut :
1.       Keluarga
Berikut cara meningkatkan minat baca anak dalam keluarga 
a)      Bacakan buku sejak anak lahir, sebaiknya anak dikenalkan dengan buku sedini mungkin, sejak anak masih bayi, bahkan ketika masih didalam kandungan 
b)      Dorong anak bercerita tentang apa yang telah didengar atau dibacanya. 
c)       Ajak anak ke toko buku/perpustakaan 
d)      Beli buku yang menarik minat anak 
e)      Sisihkan uang membeli buku 
f)       Nonton filmnya dan beli bukunya 
g)      Ciptakan perpustakaan keluarga 
h)      Tukar menukar buku dengan teman 
i)        Hilangkan penghambat seperti TV atau playstation 
j)        Beri hadiah (reward) yang memperbesar semangat membaca 
k)      Jadikan buku sebagai hadiah untuk anak 
l)        Jadikan kegiatan membaca sebagai kebiasaan setiap hari 
m)    Dramatisasi buku yang anda baca 
n)      Buatlah buku sendiri 
o)      Jadilah teladan
2.       Sekolah

Dalam menumbuhkan minat baca siswanya, pihak sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan, setidaknya harus melakukan beberapa hal.
  • Sekolah harus menyediakan buku sebanyak-banyaknya, baik fiksi maupun nonfiksi. Bagaimanapun siswa akan terlecut semangatnya untuk berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Langkah ini sangat positif bagi masa depan generasi bangsa, selanjutnya untuk menjadi kutu buku sejati.
  • Mengefektifkan bimbingan khusus. Siswa yang pada awalnya kurang memiliki daya tarik terhadap buku, oleh pihak guru dibantu dan dibimbing
  • Memfungsikan perpustakaan. Perpustakaan memegang peranan yang sangat penting dalam menumbuhkan minat baca. Diperpustakaan, siswa dapat memperoleh informasi bacaan dan berbagai referensi yang dibutukan dengan cepat dan tepat. Oleh karan itu, peran perpustakaan tetap tidak dapat dipisahkan dari dunia membaca.   
3.       Pemerintah
Pemerintah juga harus ikut mendukung program peningkatan minat baca siswa antara lain sebagai berikut :
  •  Menambah jumlah perpustakaan dan judul buku di sekolah. Juga mewajibkan guru memerikan tugs kepada siswa untuk membaca sejumlah buku sebagai syarat kenaikan kelas dan mengkampanyekan gerakan gemar membaca
  •  Pemerintah meningkatkan anggaran pendidikan minimal 5 persen dari oprasional anggaran sekolah untuk perpustakaan sehingga dapat mewujudkan perpustakaan sesuai standar.
  •  Mendukung dan menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan peningkatan minat baca, misalnya : lomba-lomba kepenulisan, pameran dan bedah buku, temu penulis, pelatihan kepenulisan dan lain-lain.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | cheap international calls