Tuesday, February 6, 2018

OPAC Perpuatakaan PT Yayasan Bina Mandiri Gunakan SLIMS

Wednesday, January 31, 2018

Sekolah kita

Tibawa (1/2/18)  Saya sempat mengintip kegiatan PBM di salah satu SMP satap , dari dimensi struktural yaitu sarana dan prasarana sangat memadai dengan ruang kelas yang cukup ruang perpustakaan dengan Ruang Guru dengan konstruksi permanen dari tampilan pisik sangat meyakinkan sebagai suatu lembaga pendidikan. Siswa  berjumlah 21 orang terdiri dari kelas 7, berjumlah 7 orang kelas 8, berjumlah 10 orang dan  kelas 9 hanya 4 orang,
Jumlah guru 3 orang yang terdiri dari 2 PNS (Guru agama dan IPS) sedang yang satunya lagi, guru horor pendidikan S1 Matematika, Setelah berdiskusi dengan siswa sepertinya kegiatan proses pembelajaran belum berlangsung sebagaimana mestinya. Inilah. kendala yang dihadapi oleh SMP satap ataupun sekolah yang kekurangan guru baik dari segi jumlah maupun kualitas. Karena tidak ada guru yang mengajar atas seizin Pak Guru Agama saya masuk kelas, saya tertarik ternyata ada 2 orang siswa memegang smartphone namun mereka tidak bisa akses internet karena ketiadaan pulsa
Dengan berbekal kuota yang masih lumayan saya berbagi dengan siswa sehingga sama-sama kami online dan mulailah saya memperkenalkan cara belajar via hp. Saya pandu mereka membuka e-learning zenius multimedia (http://zenius.net) tentunya kami pakai versi free namun informasi contennya lengkap dengan hak akses batas. Ternyata siswa sangat tertarik dengan e-learning, terlihat semangat mereka mengikuti e-learning. Pada akhir pertemuan suasana akrab tercipta saya banyak bercanda dan mereka sempat minta photo bersama. berikut ini penggalan percakapan kami:
Siswa : "Pak. bisa kami belajar dengan hp kalau tidak ada guru.
Saya  :  Tentu saja bisa...
Siswa :  Pulsa data mahal, tidak ada tampa cok kalau habis batere, ibu guru marah bawa hp, ti Pak  bilang tadi zenius mo bayar (itulah suara siswa bersahut-sahut).
Saya :  Nanti saya informasikan pada kepala sekolah. selanjutnya saya mengakhiri pertemuan dan keluar kelas.

Dalam pikiran saya, bahwa kekurangan guru baik jumlah maupun kualitas salah satu solusi adalah e-learning, namun masih ada guru PNS atau guru kontrak yang belum terampil atau bahkan sama sekali tidak bisa mengoperasikan komputer. Dikarenakan guru-guru lama atau yang senior ini tidak pernah dibekali pendidikan selain pendidikan yang menjadi bidang pekerjaannya sekarang. Guru agama hanya akan ahli terhadap agama, guru bahasa Indonesia hanya akan ahli pada bahasa Indonesia, dan guru sejarah hanya akan tahu tentang sejarah dan mereka tidak mau belajar dan berlatih mengoperasikan computer.
Sudah saatnya penerimaan pegawai PNS maupun Pegawai kontrak  yang akan menjadi guru, setidaknya seorang calon guru harus memiliki keterampilan lain selain mata pelajaran yaitu  menggunakan komputer.
Walau dengan kondisi ketidak mampuan guru mengoperasikan komputer e-learning sudah dapat diterapkan sebab siswa yang merupakan generasi milinium mampu dengan mandiri belajar via e-learning, yang perlu pengawasan dari guru agar hasilnya optimal.
 
Semoga kedepan akan lebih baik.

 


Sunday, December 24, 2017

Petani Enggan Jual Pisang Karena Harganya Murah



Petani pisang di Dusun Topolo Desa Datahu enggan menjual pisangnya karena dihargai murah oleh pengumpul semula pisang sepatu atau Pagata dihargai Rp25.000 per tandan oleh pengumpul namun 2 bulan terakhir ini harganya turun sampai dengan 10ribu pertandaan sehingga para petani enggan menjual, bahkan sebagian petani tidak memanen pisangnya dan ada juga yang menjadikan pisang sebagai pakan ternak sapi.
Ibu Sawu misalnya dia tdk menjual lagi pisang dan menjadikan sebagai pakan ternak sapi, dari pada beli pakan dedak 100 ribu per karung lebih baik kase makan pisang. Demikian tuturnya.
Hasil pemantauan kami di Pasar Minggu Tibawa (24/12/2017) harga pisang pagata relatif sama dengan harga pengumpul yaitu antara 15. Sd 10 ribu pertandan.


Friday, December 1, 2017

JURNAL PO-NOEWA

Pada tanggal 14 Agustus 1932 berdirilah
perserikatan Gorontalo Institute (GI) organisasi ini melahirkan jurnal PO-NOEWA yang dicetak oleh Yo Un Ann Gorontalo.
Pengurus GI adalah A Uno,  J.J Hatibi, L. Dunggio, Aboebakar Datau dan K Dungga. Pengurus dibantu oleh beberapa agen. BI Biki, (Limboto), Max Uno (Kwandang) dan D.M Lahay (Suwawa)
Organisasi ini bertujuan memajukan ilmu pengetahuan menyelidiki dan menjawab soal-soal mengenai pergaulan umum ekonomi budaya dan adat istiadat serta kemajuan umun Uduluwo Limo Lopahalaa ( Gorontalo)  cita-cita GI akan mendirikan Balai Pustaka bibliotheque museum Gorontalo dan lain-lain.
PO-NOEWA terbit setiap bulan yang berisi naskah naskah pidato ceramah atau sejenis pengkajian terbatas yang disampaikan oleh orang-orang Gorontalo terpilih pada masa itu. Setiap peserta bisa memberikan tanggapan melalui tulisan tidak melalui komunikasi langsung dewan redaksi PO-NOEWA yang akan menyeleksi penerbitan setiap naskah ceramah, demikian juga dengan tanggapan tertulis dari peserta terbitan terakhir penemuan edisi kedelapan bulan Juli 1933 sejak terbit pada bulan November 1932 sampai dengan Juni 1933 jumlah halaman penuh adalah 180 halaman-halaman kantor redaksi bertempat di Reksosumitro Gorontalo.
Hingga terbitan ketiga pelanggang PO-Noewa sekitar 53 orang dan tercetak untuk sekitar 120 orang pembeli yang tersebar dari Kwandang, Suwawa Bendar, Limboto Tomini dan Manado
Sumber:
Leiden University The Netherlands
KITLV 2007-2011
(Dr Basri Amin)

Saturday, November 11, 2017

Pemberdayaan masyarakat desa melalui pengembangan minat baca dan perpustakaan desa

Kita menyadari bahwa menumbuhkan budaya baca di kalangan masyarakat bukanlah suatu pekerjaan mudah dan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat karena terkait dengan kultur masyarakat kita yang meletakkan informasi sebagai sesuatu yang belum dirasakan penting dalam kehidupannya
Membeli buku belum dipandang sebagai suatu tindakan yang bermanfaat karena mereka masih terdesak oleh kebutuhan domestik yang bersifat keseharian. Oleh karena itu di sebagian masyarakat kita muncul pemikiran daripada memanfaatkan uang untuk membeli buku lebih baik digunakan uangnya untuk keperluan lain yang menurut mereka lebih mendesak dan bermanfaat.
Persoalan lain yang menjadi kendala dalam peningkatan budaya baca masyarakat diantaranya masih tingginya harga buku sulitnya memperoleh buku terutama bagi masyarakat pedesaan dan kurang Tersedianya pusat taman taman bacaan atau perpustakaan, kalaupun ada perpustakaan kondisinya tidak menarik dan kurang nyaman. Belum lagi ketersediaan materi pustaka yang kurang memenuhi harapan masyarakat dan alasan klasik lainnya adalah faktor kemiskinan yang masih melanda sebagian masyarakat. Bomobaca ombongo palapolango.
Dalam kaitan dengan peningkatan kemampuan masyarakat dan penyediaan berbagai informasi inilah Pemerintah desa di Kabupaten Gorontalo mulai membangun perpustakaan desa. Perpustakaan desa dapat menjadi Wahana bagi upaya mencerdaskan kehidupan bangsa khususnya masyarakat desa melalui sumber bacaan untuk pembelajaran seumur hidup. Langkah ini sekaligus menjawab masalah rendahnya minat baca di masyarakat dan sebagian besar berada di desa-desa jauh dari kawasan perkotaan karena masyarakat di pelosok pedesaan sulit untuk akses perpustakaan selama ini hanya berjalan ibukota kabupaten
 dalam rangka pemberdayaan masyarakat desa khususnya peningkatan kualitas sumber daya manusia maka peran dan fungsi perpustakaan Desa sangatlah menentukan perpustakaan desa seyogianya dapat berperan dalam mengembangkan minat baca masyarakat desa. Untuk itu perpustakaan desa dapat berperan dalam
(Pertama) mendorong warga masyarakat agar dapat bersikap positif terhadap pembaca sehingga menimbulkan minat masyarakat pembaca. Kegemaran membaca ini kemudian akan menjadi kebiasaan. Langkah konkrit untuk memotivasi masyarakat itu, misalnya secara berkala perpustakaan Desa menyelenggarakan Jambore membaca lomba membaca lomba mengarang dan lomba mendongeng
(Kedua) hendaknya perpustakaan Desa memiliki buku atau bahan bacaan yang sesuai dengan situasi dan kebutuhan lokal, pertanian, tentunya jenis-jenis bacaan dalam perpustakaan desa adalah yang berkaitan dengan produk dan produktivitas pertanian dan sebagainya
(Ketiga) perpustakaan Desa harus berprinsip bahwa "buku ke masyarakat" misalnya dengan mengembangkan kelompok pembaca di masyarakat, memberikan penyuluhan secara rutin tentang fungsi perpustakaan dan mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan dengan kegiatan perpustakaan,  antara Posyandu di perpuatakaan, penyuluhan pertanian, kegiatan KB di perpustakaan. dll.
(Keempat) fisik perpustakaan Desa tidak harus menempati gedung tersendiri, namun yang lebih diperlukan adalah lokasinya mudah dijangkau masyarakat. dan menjadikan Perpustakaan Desa Sebagai Pusat Informasi ... Semoga Yusron


Tuesday, October 31, 2017

Perpustakaan mulai ditinggalkan

Di era digital saat ini masyarakat mulai meninggalkan perpustakaan karena mereka memiliki fasilitas akses terhadap sumber informasi yaitu internet. Bahkan mereka memiliki kemampuan memilih sumber informasi yang sesuai kebutuhannya. Pertanyaannya masih Perlukah kehadiran perpustakaan dan pustakawan nya.?  Jawabannya tentu masih perlu karena sesuai amanat undang-undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pemerintah wajib menyediakan fasilitas perpustakaan persoalannya adalah Apakah pustakawannya memiliki kemampuan untuk mengidentifikasi mengantisipasi dan menanggapi dengan cepat perubahan kebutuhan pemustaka. Hal ini penting segera ditangani oleh pustakawan, dan jika tidak maka perpustakaan akan benar-benar ditinggalkan dan tentunya merugikan uang negara, ada beberapa upaya yang harus dilaksanakan oleh pustakawan sebagai amanat SNP (Standar Nasional Perpustakaan Umum) sebagaimana tertuang dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2017 Tentang Standar Nasional Perpustakaan Kabupaten/Kota  tentunya SNP  sebagai amanat untuk melaksanakan ketentuan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perlu menyusun standar nasional perpustakaan kabupaten/kota. SNP dimaksud  mencakup:
a. standar koleksi perpustakaan;
b. standar sarana dan prasarana perpustakaan;
c. standar pelayanan perpustakaan;
d. standar tenaga perpustakaan;
e. standar penyelenggaraan perpustakaan; dan
f. standar pengelolaan perpustakaan.
Berikut hal-hal yang sering tidak dipenuhi oleh pejabat pengelola perpustakaan.
1.  Kemutakhiran koleksi.
 Koleksi terbaru perpustakaan yang terbit tiga tahun terakhir paling sedikit 5% dari jumlah koleksi yang ada pada tahun berjalan.
2.  Pengadaan bahan perpustakaan Perpustakaan Kabupaten/Kota mengalokasikan anggaran penyelenggaraan perpustakaan: a. jumlah penduduk sampai dengan 200.000 alokasi anggaran paling sedikit Rp. 500.000.000 per tahun; b. jumlah penduduk > 200.000 alokasi anggaran @Rp. 2500.- per kapita per tahun.
3.  Kunjungan Perpustakaan Jumlah kunjungan ke perpustakaan paling sedikit 0.10 per kapita per tahun.


4.  Promosi perpustakaan
x

Standar Perpustakaan Perguruan Tinggi Terbaru

Pada Tanggal 27 Maret 2017 telah di Undangkan Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 Tentang  Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal ini merupakan pelaksanaan ketentuan Pasal 51 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, perlu menyusun standar nasional perpustakaan perguruan tinggi;
Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dimaksud mencakup: (a) standar koleksi perpustakaan; (b) standar sarana dan prasarana perpustakaan; (c) standar pelayanan perpustakaan; (d) standar tenaga perpustakaan; (e) standar penyelenggaraan perpustakaan; dan  (f) standar pengelolaan perpustakaan. ada beberapa hal yang perlu kita cermati dalam standar ini antara laian : tentang Standar Koleksi.
Pertama  Ketersedian Jurnal ilmiah paling sedikit 2 (dua) judul (berlangganan atau menerima secara rutin) per program studi. Artinya bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat untuk tidak berlangganan tetapi memastikan dapat mengakses secara rutin jurnal ilmiah, saat ini ini merupakan hal yang mudah dilaksanakan hanya saja membutuhkan  pustakawan yang memiliki kompetensi yang memadai dan tanggung jawab untuk mengakases melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan khususnya jurnal ilmiah nasional maupun internasional yang difasilitasi oleh Negara dan dibayar oleh APBN.
Kedua Muatan lokal (local content) atau repositori terdiri dari hasil karya ilmiah civitas academica (skripsi, tesis, disertasi, makalah seminar, simposium, konferensi, laporan penelitian, laporan pengabadian masyarakat, laporan lain-lain, pidato pengukuhan, artikel yang dipublikasi di jurnal nasional maupun internasional, publikasi internal kampus, majalah atau buletin kampus). Untuk hal ini masih terdapat PT yang belum dapat mengelola sesuai standar padahal saat ini telah tersedia aplikasi yang gratis, lagi-lagi membutuhkan pustakawan yang mampuni khusus yang memiliki kompetensi bidang teknologi informasi.
Ketiga Tentang penyediakan sarana perpustakaan disesuaikan dengan koleksi dan pelayanan, untuk menjamin keberlangsungan fungsi perpustakaan dan kenyamanan dengan memperhatikan pemustaka yang memiliki berkebutuhan khusus (disabilitas),

Ini beberapa hal yang beru dan berbeda dengan SNI Tahun 2009 untuk melihat Perka Kepala Perpustakaan Nasional Nomor 13 Tahun 2017 Tentang  Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi dapat di DOWNLOAD DISINI