Oleh: Yusron Humonggio, M.Pd.
Inovatif • Kolaboratif • Adaptif • Reflektif
Perpustakaan merupakan salah satu lembaga peradaban daerah yang memiliki tanggung jawab penting dalam membangun masyarakat yang berpengetahuan, berdaya, dan mampu menghadapi perubahan zaman. Karena itu, keberadaan perpustakaan tidak cukup hanya dipertahankan, tetapi harus terus diperkuat, ditumbuhkembangkan, dan dijaga relevansinya oleh seluruh stakeholder daerah.
Kita sedang berada dalam perubahan besar. Teknologi informasi dan kecerdasan artifisial (AI) telah memasuki hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Informasi tersedia dalam jumlah yang sangat besar dan dapat diperoleh dengan sangat cepat. Berbagai platform digital bahkan mampu menyediakan informasi, menghasilkan tulisan, membuat gambar, membantu pekerjaan, mengembangkan usaha, hingga mendukung proses pembelajaran.
Perubahan tersebut menghadirkan tantangan baru bagi perpustakaan.
Di tengah masyarakat mulai muncul pertanyaan: Jika informasi sudah tersedia di internet dan AI mampu menjawab berbagai kebutuhan manusia, apakah perpustakaan masih diperlukan?
Pertanyaan tersebut tidak seharusnya dijawab dengan sikap defensif. Justru pertanyaan itu harus menjadi momentum bagi perpustakaan untuk melakukan refleksi dan perubahan.
Perpustakaan tidak boleh menjadi penonton perubahan. Perpustakaan harus menjadi bagian dari perubahan.
Mempertahankan perpustakaan bukan berarti mempertahankan bentuk dan pola layanan lama. Mempertahankan perpustakaan berarti memastikan perpustakaan terus memiliki manfaat dan relevansi dalam kehidupan masyarakat.
Karena itu, perpustakaan harus bergerak dari sekadar tempat memperoleh bahan bacaan dan informasi menjadi ruang masyarakat untuk belajar, mengembangkan keterampilan, menciptakan karya, memanfaatkan teknologi, menggunakan AI secara bijak, mengembangkan usaha, dan meningkatkan kualitas kehidupan.
Dalam kerangka inilah saya dan teman -teman mengembangkan sebuah ekosistem layanan digital yang dapat dimanfaatkan secara gratis oleh pemustaka dan masyarakat yang membutuhkan. Platform tersebut memberikan kesempatan kepada pengguna untuk mengembangkan microsite, website, landing page, toko online, berbagai generator, serta generator prompt AI yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan, pekerjaan, usaha, komunitas, literasi, dan pengembangan profesi.
Khusus bagi guru dan tenaga pendidikan, fasilitas tersebut dapat dikembangkan untuk membantu menciptakan prompt yang lebih terstruktur dan presisi dalam pemanfaatan AI untuk pembelajaran, bahan ajar, asesmen, media pembelajaran, dan berbagai kebutuhan profesional lainnya.
Bagi pelaku UMKM, platform dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk, membangun katalog digital, membuat landing page, dan mengembangkan kehadiran usaha di ruang digital.
Bagi komunitas dan masyarakat umum, platform dapat menjadi ruang untuk membangun profil, mempublikasikan kegiatan, mengembangkan karya, serta memperluas akses terhadap informasi dan teknologi.
Dengan demikian, perpustakaan tidak hanya memberikan akses terhadap informasi, tetapi juga memberikan akses terhadap kemampuan untuk mengolah informasi menjadi pengetahuan, keterampilan, dan karya.
Inilah semangat Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di era digital dan AI.
Transformasi tersebut kami bangun di atas empat prinsip.
Pertama, inovatif.
Perpustakaan harus terus mencari cara baru dalam menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi tidak selalu berarti teknologi yang rumit, tetapi setiap pembaruan yang memberikan manfaat nyata.
Kedua, kolaboratif.
Perpustakaan tidak mungkin bekerja sendiri. Pemerintah daerah, DPRD, pustakawan, sekolah, guru, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, organisasi profesi, pegiat literasi, dan masyarakat perlu menjadi bagian dari ekosistem pengembangan perpustakaan.
Ketiga, adaptif.
Perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat berlangsung sangat cepat. Perpustakaan harus mampu membaca perubahan, memilih teknologi yang bermanfaat, dan menyesuaikan layanan tanpa kehilangan jati dirinya.
Keempat, reflektif.
Setiap program dan inovasi harus terus dievaluasi. Kita perlu bertanya: apa yang berhasil, apa yang belum berhasil, apa manfaatnya bagi masyarakat, apa yang perlu diperbaiki, dan apa yang harus dikembangkan. Dengan refleksi, inovasi tidak berhenti sebagai proyek, tetapi menjadi proses pembelajaran yang terus-menerus.
Karena itu, kami memandang bahwa pengembangan perpustakaan merupakan tanggung jawab bersama seluruh stakeholder daerah.
Pemerintah daerah memberikan kebijakan dan dukungan.
DPRD memberikan penguatan melalui fungsi kebijakan dan penganggaran.
Dinas terkait membangun sinergi program.
Pustakawan menggerakkan layanan dan inovasi.
Sekolah dan guru memanfaatkan serta mengembangkan pengetahuan.
Komunitas dan dunia usaha menjadi mitra pemberdayaan.
Masyarakat menjadi penerima sekaligus pelaku perubahan.
Dengan ekosistem tersebut, perpustakaan dapat benar-benar hadir sebagai lembaga peradaban daerah.
Sebuah lembaga yang tidak hanya menjaga pengetahuan masa lalu, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi masa kini dan mempersiapkan masa depan.
Oleh karena itu, yang kita perjuangkan bukan sekadar pembangunan sebuah platform digital. Yang sedang kita bangun adalah cara baru menghadirkan perpustakaan di tengah kehidupan masyarakat.
Perpustakaan harus mampu menjawab perkembangan zaman dengan keberanian untuk berinovasi, kekuatan untuk berkolaborasi, kemampuan untuk beradaptasi, dan kesediaan untuk terus melakukan refleksi.
Perpustakaan tidak boleh kehilangan tempat di tengah perubahan zaman.
Justru ketika teknologi dan AI berkembang semakin cepat, perpustakaan harus hadir semakin dekat dengan masyarakat.
Karena mempertahankan perpustakaan bukan berarti mempertahankan masa lalu.
Mempertahankan perpustakaan berarti memastikan masyarakat tetap memiliki lembaga yang membantu mereka memahami informasi, menguasai pengetahuan, memanfaatkan teknologi, menciptakan karya, dan membangun masa depan.
Semoga.
Ini yang tersisa dari "BIMTEK LITERASI PERPUSTAKAAN"














